AKAR PERMASALAHAN MUNCULNYA TERORISME DI INDONESIA

09 Nov 2015, 14:25:24 WIB - dibaca 950 kali
KATEGORI BERITA : Jagajakarta TAG BERITA : jakarta
AKAR PERMASALAHAN MUNCULNYA TERORISME DI INDONESIA

Faktor penyebab terorisme merupakan permasalahan yang kompleks. Para pengamat terorisme mengidentifikasi faktor munculnya terorisme dalam berbagai macam faktor.  Identifikasi ini merupakan kesimpulan dari pengamatan atas  tindakan,  karakteristik  maupun  akar  permasalahannya.   


Fakta tentang masih adanya terorisme,  seperti tragedi bom bunuh diri yang terjadi di hotel Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 lalu. Beberapa kejahatan terorisme yang tercatat setelah tahun 2009 di antaranya adalah bom buku dan bom serpong tahun 2011, yang melibatkan Pepi Fernando. Kasus penembakan polisi di Poso yang melibatkan kelompok Farhan Mujahid. Serangan bom ke Polsek Rajapolah dan Vihara Ekayana di tahun 2013, serta kasus penembakan polisi di Ciputat, Pondok Aren dan Poso yang terjadi di tahun yang sama. Dan sejumlah kejahatan perampokan bank dan toko yang dilatari motif pencarian dana untuk mendukung gerakan terorisme.

Indikasi masih maraknya gerakan terorisme juga dapat dilihat dari banyaknya pelaku terorisme yang berhasil ditangkap. Sepanjang tahun 2013, tercatat ada 94 yang diduga pelaku terorisme berhasil ditangkap (Ansyaad Mbai, 2014). Hal itu menjadi bukti bahwa masalah terorisme di Indonesia merupakan persoalan yang serius. Beberapa pelaku yang tertangkap kemudian mengistilahkan kejahatan terorisme ini sebagai upaya Jihad. Apakah demikian memaknai Jihad itu. Majelis Ulama Indonesia bahkan mengeluarkan Fatwa Tentang Haramnya Bom Bunuh Diri, apapun alasannya. Mengapa kemudian kelompok Teroris atau kelompok Radikal atas nama agama ini masih saja menggunakan istilah Jihad Untuk kejahatan kemanusiaan.  


Dilihat dari definisinya teroris berasal dari kata latin “terrere” yang berarti membuat gemetar atau menggetarkan (Ahmad Jenggis P, 2012:112). Menurut KBBI adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Secara etimologi, Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat untuk mencapai tujuan politis, ekonomi, religius, atau sosial. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan secara umum, seperti waktu pelaksanaan terorisme yang selalu tiba-tiba (mendadak) dan target korban jiwa yang acak (berubah-ubah) serta seringkali merupakan warga sipil.


Kesan negatif yang terkandung dalam kata ‘teroris’ atau ‘terorisme’ membuat pelaku menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pembebas negara, pasukan perang salib, pasukan keamanan, militan, mujahidin, atau istilah lain untuk menepis tudingan bahwa tindakan yang mereka perbuat merupakan bagian dari teroris atau terorisme. Di beberapa negara, terorisme identik dengan aktivitas kelompok revolusioner ekstrimkiri seperti Brigadir Merah di Italia, ataupun kelompok ekstrim kanan seperti Neo-Nazi dan Skinheads di Eropa. Di sisilain,denganmunculnyakelompokseperti al Qaeda dan ISIS, basisreligius juga menjadi bagian dari variasi identifikasi mengenai kelompok teroris, khususnyayang terjadi dalam dasawarsa terakhir. Sebagai salah satu kelompok teroris, Al Qaeda misalnya jugamenjadisemakinsignifikan ketikadenganbasis religiusnya, kelompok ini diduga memiliki jaringan global yang luas dan menjadi ancaman internasional.


DiIndonesia sendiri, terorisme dikaitkan dengan keberadaan kelompok Jemaah Islamiyah(JI), kelompok radikal Islam yang dianggap menjadi ancaman serius bagikeamanan diAsia Tenggara, khususnya Indonesia terkait dengan identifikasi anggota JI sebagai otak dan pelaku aksi-aksi terorisme di Indonesia oleh pihak kepolisian antara tahun2000-sampai sekarang seperti Bom Natal tahun 2000, 81 bom dan 29 peledakan di Jakarta pada tahun2001, Bom Bali I tahun 2002, Bom Marriot tahun 2003, Bom Kedutaan Besar Australia tahun 2004serta Bom Bali II tahun 2005. Beberapa pihak mengklaim bahwa JI juga merupakankelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan bahwa aksi terorisme di Indonesia sepertiBom Bali I tahun 2002 merupakan aksi terorisme terorganisir yang menggunakan style alaalQaeda. Namun dalam memahami akar permasalahan terorisme, kemunculan dari kelompok-kelompokteroris tidak hanya disebabkan oleh satu faktor akan tetapi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Baik melalui pendekatan struktural maupun individu, faktor-faktor yang muncul beragam, dankemunculankelompokteroris ataupun aksiterorisme besaral dari interaksi antara faktor-faktor tersebut. Aksi terorisme yang dilakukanoleh kelompok teroris ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor afiliasi dengan kelompok teroris semata. Bukan hanya faktor internasional, tetapi faktor-faktor lain seperti kondisidomestik juga berpengaruh dalam munculnya terorisme di Indonesia.


Dengan mempercayai bahwa kemunculandari kelompok teroris tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja,akan tetapi oleh beberapa faktor yang berinteraksi satu sama lain, artikel ini akan mencoba menjelaskan bahwa akibat kemunculannya karena akibat adanya  interaksi kondisi domestik dan internasional berperan sebagai faktor-faktor yang menyebabkan munculnya terorismedi Indonesia. Dengan melihat kondisi domestik dan internasional sebagai sebuah interaksi daripada faktor-faktor yang terpisah, diharapkan akan lebih memperjelas bagaimana fenomena terorisme muncul dan berkembang di Indonesia. Orde Baru misalnya kemudian dipilih sebagai rentang waktu pembahasan karena pada periode inilah kondisi-kondisi baik domestik maupun internasional muncul dan mempengaruhi perkembangan terorisme di Indonesia. Pada masa Orde Baru ini, peredaman aspirasi maupunaksi-aksi sosial oleh pemerintahan yang represif menjadi ladang yang subur bagi bangkitnyagerakan-gerakan melawan ketidakbebasan dari represi pemerintah. Situasi internaisonal pada periode ini juga menjadi faktor penting dalam perkembangan terorisme  diIndonesia dengan adanya pengaruh perjuangan Afganistan serta perkembangan jihad global masa Perang Dingin sekitar tahun 1980-an. Selain itu, beberapa peristiwa spesifik sesaat pasca Orde Baru juga akan dilibatkan dalam pembahasan sebagai faktor pemicu yang pada akhirnya mendorong terjadinya aksi terorisme di Indonesia, khususnya yang terjadi antara tahun 2000 hingga 2005.

Akar permasalahan terorisme diIndonesia dapat diuraikan dari beberapa teori, Teori strukturalismisalnya, merupakan salah satu teori yang sering digunakan untuk menjelaskan bagaimanasebuah konflik dapat muncul di suatu masyarakat. Fokus utama dari teori strukturalis adalahmelihat faktor-faktor pendukung dari sebuah masyarakat (struktur) yangharus diperhatikanpemerintah suatunegarademimenjagakeamanannasionalnya. Faktor-faktor tersebut antara lain persamaan atas hak (equal rights), perlindungan terhadap penduduk (civil protections), kebebasan (freedom) ataubeberapa faktor yang lain. Menurut teori ini yang menjadi kunci dari penyebab munculnya kelompok-kelompok teroris adalah tidak adanya keadilan, rasakecewa dan ketidak puasan terhadap kinerja pemerintah, dan ketidak pedulian dari elit politik yang berkuasa sehingga sehingga menyebabkan munculnya kesenjangan sosial didalam masyarakat. Selain teori strukturalis, teori relative  deprivation (RD) dan teori absolute deprivation (AD) juga digunakan untuk memahami asal mula terorisme. Teori RD yang dikembangkan oleh Ted Robert Gurr berfokus pada hubungan antara frustasi dan agresi yang dimilikiindividu menjadi dasar dalam melakukan tindakan terhadap subyek yang menjadi sumber  frustasi  mereka.Sedangkan  teori AD menyebutkan bahwa jika suatu kelompok telah diabaikan kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup oleh pemerintah atau sistemsosial,mereka akan bergerak melakukan kekerasan politik.Selain teori-teori di atas, terdapat pula indikator-indikator spesifik yang dapat menjadi faktor  menyebarnya  gerakan  terorisme.


Bagi kelompok teroris, ladang yang subur untuk dapat menyebarkan paham terorismenya adalah ketika mereka berada di sebuah kondisimasyarakat yang secara ekonomi dan sosial terjadi kesenjangan, sehingga dari kondisi inimuncul beberapa fenomena seperti kemiskinan, rendahnya pelayanan terhadap masyarakat terutama masyarakat ekonomi lemah, tidak adanya persamaan hak asasi manusia di mata politik, serta kurangnya akses terhadap pendidikan. Kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi faktor yang menyebabkan masyarakat lebih cepat menerima doktrinasi paham terorisme. Adapun faktor politis lain  yang mendukung perkembangan paham terorisme adalah bagaimana sebuah kelompok teroris mengeksploitasi kondisi politik yangkacau dalam suatu pemerintahan negara yang lemah (weak states) atau negara yang gagal (failed states).Akar  permasalahan  terorisme,  baik  domestik  maupun  internasional, sangatlah beragam  dan  kompleks.  Beberapa  faktor  yang  muncul  dapat berupa  faktor  ideologis  yang melibatkan  agama  dan  etnonasionalisme ekstrim,  di  sisi lain, faktor yang  berasal  dari  permasalahan  sosial  ekonomi  seperti  kemiskinan dan pengangguran sebagai akibat dari pemerintahan yang lemah dan tidak sanggup mengikuti arus globalisasi juga menjadi faktor tambahan dalam memahami akar permasalahan terorisme.


Dari sekian literatur yang membahas mengenai akar permasalahan terorisme seperti diatas, makalah ini akan menggunakan tipologi penyebab terorisme oleh Tore Bjørgo untuk membantu memberikan penjelasan terhadap permasalahan. Tipologi oleh Bjørgo ini dipilihkarena dapat digunakan untuk memetakan faktor-faktor yang berperan dalam kemunculanaksi terorisme secara terstruktur dan kronologis. Dimulai dengan faktor prekondisi hingga  pemicu,  penggunaan  tipologi  penyebab terorisme oleh Bjørgo dapat membantu mengalisisinteraksi kondisidomestik dan situasi internasional yang menyebabkan aksi terorisme diIndonesia dalam kerangka sejarah, yakni masa Orde Baru. Dalam buku Root Causesof Terrorism: Myths, Reality, and Ways Forward, Bjørgo, menawarkan sebuah tipologi yang dapat  digunakan untuk memahami faktor faktor penyebab terorisme. Bjørgo membedakan antara dua kategori penyebab dalam tipologinya, yaitu precondition softerrorism dan precipitants of terrorism. Preconditions(prekondisi) adalah faktor-faktor yang menyediakan kondisi- kondisi yang dalam jangka panjang kemudian melahirkan terorisme. Sementara itu,precipitants of terrorismadalah peristiwa atau fenomena spesifik tertentuyang secara langsung mendahului atau memicu terjadinya sebuah tindak terorisme.

Kedua faktor ini dibagi lagi menjadi empat level sebagai berikut:

  • Faktor penyebab struktural, yaitu faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi kehidupan masyarakat ditingkat makro(abstrak),yang kemungkinan tidakd disadari. Beberapa faktor struktural yang dikemukakan Bjorgo antara lain ketidak seimbanganemografik, globalisasi, modernisasi yang sangat cepat, transisi masyarakat, meningkatnyaindividualismedan ketercerabutan dari akar serta keterasingan dalam masyarakat (atomisasi),struktur kelas, dsb.
  • Faktor penyebab fasilitator (akselerator),yaitu faktor-faktor yang menyebabkanterorisme menjadi pilihan menarik untuk dilakukan, meskipun bukan pendorong utama terjadinya terorisme. Contoh-contoh penyebab di level ini antara lain perkembangan media massa diera modern, perkembangan transportasi, teknologi persenjataan, lemahnya kontrol negara atas wilayahnya, dan sebagainya.
  • Faktor penyebab motivasional,yaituketidakpuasanaktual(grievances)yangdialamiditingkatpersonal, yang memotivasi seseorang untuk bertindak. Para ideolog atau pemimpin politik mampu menerjemahkan penyebab-penyebab dilevel struktural dan membuatnya relevan ditingkat motivasional melalui ideologi-ideologi sehingga dapatmenggerakan orang-orang untuk bergerak.
  • Faktor pemicu,yaitu penyebab langsung terjadinya tindak teroris. Faktor pemicudapat berupa terjadinya peristiwa yang provokatif atau persitiwa politik tertentu atau tindakanyang dilakukan oleh pihak musuh yang menimbulkan reaksi tertentu.

 

Dengan menggunakan tipologi di atas, artikel ini akan berusaha menjawab bagaimana interaksi antara kondisi domestik dan situasi internasionalpadamasaOrdeBarudapat berkontribusi sebagai penyebab terorisme di Indonesia. Makalah ini membatasi lingkuppembahasan padakondisi domestikdan situasiinternasional masa Orde Baru sebagai faktor-faktor struktural, fasilitator (akselerator) dan juga motivasional penyebab aksi terorisme olehanggota kelompok tertentu yang telah bertanggung jawab dalam serangkaian peristiwa terorisme di Indonesia serta sesaat pasca masa Orde Baru, yakni tahun 1998 hingga2001 sebagai rentang waktu di mana faktor pemicu yang pada akhirnya membuat anggotakelompok JI melakukan aksi terorisme muncul.


(Oleh: Rendra Yuniardi, S.Th.I., Tim Pengajar deradikalisasi bagi siswa SLTA di Jakarta)







  Tentang Penulis

by : @fkptdki
ayo Jaga Jakarta
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

*Komentar Anda Akan di verifikasi terlebih dahulu oleh admin sebelum ditampilkan