Deradikalisasi Bagi Siswa SLTA Se-Jakarta

15 Sep 2015, 14:58:04 WIB - dibaca 1154 kali
KATEGORI BERITA : Nasional TAG BERITA : jakarta
Deradikalisasi Bagi Siswa SLTA  Se-Jakarta

Sebuah langkah Kongkrit Membangun Kesadaran Berbangsa

Bulan September 2015 sebuah kerja besar sedang digalang oleh FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Teroris) DKI Jakarta. Lembaga yang dipimpin Zaenal Mustafa mantan Kepala Kesbangpol DKI Jakarta ini bekerjasama dengan seluruh pimpinan Kesbangpol dari lima wilayah, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan tokoh pemuda bahu membahu membangun pemahaman dan kesadaran berbangsa dan bernegara para pelajar SLTA dari ancaman bahaya kejahatan luar biasa, terorisme.

Sebuah kerja besar dan kongkrit yakni melaksanakan agenda deradikalisme dikalangan pelajar SLTA se-Jakarta, meliputi 180 SLTA, dengan jumlah siswa sebanyak 7200 orang dalam kurun waktu satu bulan.

Teroris adalah kejahatan luar biasa yang bergerak secara rapi, terorganisir, melampaui batas-batas negara. Kejahatan besar terhadap kemanusiaan yang dibangun melalui penyesatan-penyesatan dan manipulasi alam berpikir khalayak melalui doktrin-doktrin tertentu, bahkan mereka menggunakan dogma-dogma agama tertentu untuk melakukan penggalangan dan pembenaran atas langkah dan perbuatan mereka.

Kejahatan teroris yang menghalakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menimbulkan suasana rasa takut terhadap kehidupan manusia secara massal dengan modus operandi yang paling umum adalah dengan pengeboman-pengeboman (termasuk didalamnya bom bunuh diri) ditempat-tempat umum dengan sasaran secara acak banyak terjadi diberbagai penjuru dunia. Secara umum korban adalah warga sipil yang tidak berdosa.

Dalam sejarah kontemporer Indonesia, paska perubahan iklim politik reformasi, telah terjadi setidaknya lima peristiwa kejahatan teroris yang signifkan (Ansyaad Mbai, 2014), yakni peristiwa bom Bali pertama (2002), peristiwa bpm Hotel J.W Marriot (2003), peristiwa bom Kedubes Australia (2004), bom Bali kedua (2005), dan serangan bom secara simultan di J.W Marriot dan Ritz Carlton (2009).   

Kejahatan teroris di Indonesia menurut Arsyaad Mbei dalam bukunya Dinamika Baru Jejaring Terror di Indonesia (2014 : 15) tipe terorisme di Indonesia adalah terorisme yang dimotavasi oleh agama (religiously motivated). Hal tersebut berdasarkan fakta-fakta yang terungkap bahwa para pelakunya adalah penganut ideologi agama yang radikal-ekstrim, dan mereka memperjuangkan ideologi dan pemahaman mereka dengan cara-cara kekerasan.

Hal tersebut tentu sangat menodai kehidupan berbangsa dan bernegara mayoritas rakyat Indonesia yang religius. Hanya karena perbuatan jahat dan sesat segelinitir orang atau kelompok kecil yang yang menggunakan simbol-simbol agama untuk melakukan kejahatan kemanusiaan. Maka cap dan stempel negatif melekat pada kita semua umat beragama, ibaratnya gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.

Padahal ajaran agama khususnya Islam menurut cendikiawan muslim Prof. Nazaruddin Umar, radikalisme dan terorisme sebenarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Sebab selama ini Islam tidak menggunakan radikalisme untuk berinteraksi dengan umat beragama yang lain.

Dalam sejarahnya, penyebaran agama Islam yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara santun, memberikan penghormatan kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

Kelompok teroris ini memanfaatkan sosial-kultur mayoritas rakyat Indonesia yang permisif dan toleran untuk mereka mengeram dan menularkan sel-sel mereka di Indonesia. Rakyat yang religius, polos, mudah percaya, dimanipulasi dan disesatkan untuk kepentingan kejahatan mereka. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah pola mereka yang meracuni dan merekrut anak-anak muda yang masih polos untuk menjadi martil bagi kejahatan mereka.

Sungguh kondisi yang sangat mengkawatirkan, karena anak-anak muda itu adalah generasi potensi penerus kepemimpinan bangsa dimasa depannya. Mereka bukan hanya menjadi korban dari doktrin yang sesat, akan tetapi juga meninggalkan luka dalam bagi keluarganya.

Maka apa yang dilakukan oleh FKPT DKI Jakarta dengan menyasar deradikalisme pelajar SLTA adalah sebuah langkah kongkret yang sangat tepat. Mereka para generasi muda tidak hanya harus dilindungi dari ajaran-ajaran yang menyesatkan, tetapi sekaligus mereka dibentengi dengan pemahaman dan kesadaran tentang ajaran agama yang benar, sekaligus mereka menjadi kader-kader yang tercerahkan yang mampu mentransformasi gagasan kebangsaaan kepada teman, keluarga, dan lingkungannya.

Karena kejayaan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia terletak pada pundak-pundak generasi mudanya. Salute and respect buat FKPT DKI Jakarta. 

Oleh : Ali Sodikin





  Tentang Penulis

by : @fkptdki
ayo Jaga Jakarta
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

*Komentar Anda Akan di verifikasi terlebih dahulu oleh admin sebelum ditampilkan