MEMAKNAI TERORISME, RADIKALISME ATAS NAMA AGAMA DAN TAFSIR JIHAD

21 Sep 2015, 05:57:31 WIB - dibaca 1454 kali
KATEGORI BERITA : Nasional TAG BERITA : nasional-
MEMAKNAI  TERORISME,  RADIKALISME ATAS NAMA AGAMA  DAN TAFSIR  JIHAD

Fakta tentang masih adanya terorisme dapat kita saksikan,  seperti tragedi bom bunuh diri yang terjadi di hotel Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 lalu. Beberapa kejahatan terorisme yang tercatat setelah tahun 2009 di antaranya adalah bom buku dan bom serpong tahun 2011, yang melibatkan Pepi Fernando. Kasus penembakan polisi di Poso yang melibatkan kelompok Farhan Mujahid. Serangan bom ke Polsek Rajapolah dan Vihara Ekayana di tahun 2013, serta kasus penembakan polisi di Ciputat, Pondok Aren dan Poso yang terjadi di tahun yang sama. Dan sejumlah kejahatan perampokan bank dan toko yang dilatari motif pencarian dana untuk mendukung gerakan terorisme. Indikasi masih maraknya gerakan terorisme juga dapat dilihat dari banyaknya pelaku terorisme yang berhasil ditangkap. Sepanjang tahun 2013, tercatat ada 94 yang diduga pelaku terorisme berhasil ditangkap (Ansyaad Mbai, 2014). Hal itu menjadi bukti bahwa masalah terorisme di Indonesia merupakan persoalan yang serius. Beberapa pelaku yang tertangkap kemudian mengistilahkan kejahatan terorisme ini sebagai upaya Jihad. Apakah demikian memaknai Jihad itu. Majelis Ulama Indonesia bahkan mengeluarkan Fatwa Tentang Haramnya Bom Bunuh Diri, apapun alasannya. Mengapa kemudian kelompok Teroris atau kelompok  Radikal atas nama agama ini masih saja menggunakan istilah Jihad Untuk kejahatan kemanusiaan.  Penulis tertari untuk mendalami makna terorisme, radikalisme, dan tafsir jihad.

TERORISME

Teroris berasal dari kata latin “terrere” yang berarti membuat gemetar atau menggetarkan (Ahmad Jenggis P, 2012:112). Menurut KBBI adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Secara etimologi, Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat untuk mencapai tujuan politis, ekonomi, religius, atau sosial. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan secara umum, seperti waktu pelaksanaan terorisme yang selalu tiba-tiba (mendadak) dan target korban jiwa yang acak (berubah-ubah) serta seringkali merupakan warga sipil.

Kesan negatif yang terkandung dalam kata ‘teroris’ atau ‘terorisme’ membuat pelaku menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pembebas negara, pasukan perang salib, pasukan keamanan, militan, mujahidin, atau istilah lain untuk menepis tudingan bahwa tindakan yang mereka perbuat merupakan bagian dari teroris atau terorisme.

RADIKALISME

Radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Namun bila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham / aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham / aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

Term Terorisme dan Radikalisme merupakan dua hal yang berbeda, namun keduanya memiliki keterkaitan. Radikalisme lebih mengarah pada sikap atau perbuatan yang berhubungan dengan problem internal keagamaan. Sedangkan terorisme secara nyata mencakup tindakan kriminal untuk tujuan-tujuan tertentu.

Terorisme selalu dikaitkan dengan agama Islam yang berpaham radikal. Tetapi ajaran Islam yang sesungguhnya adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yakni memberi keamanan, kenyamanan, ketenagan dan ketentraman bagi segenap pemeluknya. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan kekerasan yang berdampak pada kerusakan dan kerugian umat manusia.

Radikalisme agama atau kerap disebut radikalisme Islam merupakan istilah yang dipopulerkan oleh media barat untuk gerakan Islam garis keras yang dikaitkan dengan sikap ekstrim, kolot, stagnasi, konservatif dan anti-barat. Radikalisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang merasa dirugikan oleh kondisi sosio-politik, sosio-historis dengan mengatasnamakan panji-panji keagamaan.

Pada perkembangannya, ada dua faktor yang memicu paham radikalisme. Pertama, akibat krisis identitas yang diselesaikan dengan pemahaman atau keyakinan yang menyatakan kekerasan sebagai solusi. Hal itu berawal dari kondisi globalisasi, seperti kebijakan luar negeri, perkembangan politik, budaya, dan ekonomi global. Kedua, melalui interaksi sosial yang dipengaruhi oleh media, teman, pemimpin kelompok, anggota keluarga, atau lingkungan sekitar, sehingga menerima sebuah pemahaman harus melakukan sesuatu untuk menghadapi hal-hal yang mengancam aliran kepercayaan yang diyakininya. Fenomena radikalisme di Indonesia terkait erat dengan peristiwa diproklamirkannya Negara Islam Indonesia (NII) di Jawa Barat pada 7 Agustus 1949 dibawah komando Kartosuwiryo. Gerakan ini bercita-cita mendirikan negara dengan syariat Islam sebagai dasar hukum.

Secara garis besar, ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya faham radikalis. Pertama, karena faktor modernisasi yang dianggap telah menggeser nilai-nilai agama dan pelaksanaannya. Kedua, karena sikap dan aspek politik yang tidak sejalan dengan sikap politik yang dianut penguasa. Ketiga, ketidak-puasan mereka terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik, dan lainnya di negeri ini. Keempat, karena sifat dan karakter dari ajaran Islam yang dianut kelompoknya.

JIHAD

Jihad berasal dari kata “Aljahdu” dan “Aljuhdu”. Secara etimologi adalah kemampuan dan kesusahan. Imam Ibnu Hajar al-asqolani berkata: ”Dan jihad dengan menkasrohkan huruf jim berarti kesusah-payahan. Sedangkan menurut pengertian terminologi, Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai oleh kebenaran dan menangkal sesuatu yang dibenci oleh kebenaran. Contohnya melaksanakan perintah Tuhan, yakni ibadah. Ibadah merupakan sesuatu yang dicintai oleh kebenaran. Sebaliknya, menangkal sesuatu yang dibenci oleh kebenaran, yakni nafsu atau kemaksiatan. Dapat disimpulkan, menjalankan ibadah dan menahan nafsu merupakan bagian dari jihad. Sedangkan orang yang melakukan jihad disebut mujahid. Rasulullah bersabda:

“Mujahid adalah orang yang berjihad/ bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan orang yang berhijroh adalah orang yang hijrah dari apa-apa yang dilarang oleh Allah” (H.R. Ahmad 6/21, Ibu Hibban: 25 dan Alhakim serta disepakati oleh imam Ad-dzahabi)

Kata jihad cenderung diidentikkan dengan perang. Hal itu dapat dimaklumi, mengingat jihad itu sendiri secara bahasa bisa diartikan sebagai “kesusahan”. Perang melawan hawa nafsu dan kemaksiatan adalah bukti nyata jihad di era modern seperti saat ini. Perihal Jihad yang selalu diidentikan dengan perang, itu bisa dipahami karena pada masa Islam baru berkembang, jihad dengan cara berperang melawan musuh Islam menjadi pilihan yang harus dilakukan saat itu. Sehingga dalam perjalanannya, jihad selalu diidentikan dengan perang. Seiring dengan berkembangnya ajaran Islam, maka istilah jihad sudah tak lagi identik dengan perang, sebab musuh Islam dimasa kini bukan lagi kelompok yang menentang ajaran Islam itu sendiri, tetapi nafsu dalam diri kita.

Namun masih banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam, memahami jihad hanya bertumpu pada perang, dan menganggap orang yang tidak sepaham dengannya dianggap musuh dan boleh diperangi, dengan dalih sebagai jihad. Hal itu jelas merupakan pemahaman yang keliru. Inilah pentingnya belajar sejarah, agar kita memahami arah dan tidak tersesat pada pemahaman tekstual semata.

Kesimpulan

Terorisme adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama. Sebab dampak yang ditimbulkan dari terorisme itu merugikan pihak lain, bukan hanya kerugian materi, bahkan merenggut nyawa dan luka-luka. Islam mengajarkan akhlak, kasih sayang, toleransi, dan nilai-nilai universal, seperti Hak Asasi Manusia (HAM) yakni memberi kebebasan memeluk agama sesuai keyakinannya. Dalam Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2004 Tentang TERORISME, MUI Menyatakan Haram apapun alasan tindakan terorisme, sebab terorisme berbeda sama sekali dengan makna Jihad.  Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan, yang tentu semua agama mengutuk ini.

Radikalisme sebagai sebuah paham, tentu  dicegah dengan cara membentengi dengan pemahaman yang tepat terhadap tafsir Agama. Untuk Muslim tentu dengan Tafsir yang tepat terhadap Al Qur an dan Al Hadist. Apabila benteng dalam diri kita kuat, maka ajaran yang menjurus pada perilaku radikal mampu ditepis dengan mudah. Sebab para misionaris radikalis menyasar pada generasi muda yang jauh dari agama, bahkan tidak mengenali seutuhnya tentang agama yang diyakininya, sehingga dengan mudah dipengaruhi oleh ajaran lain yang menyesatkan dan menjerumuskan dirinya kedalam jurang “kesesatan”. Semoga kita dan keturunan kita selalu dilindungi oleh Allah SWT, dan senantiasa berjalan sesuai dengan ajaran agama. SEKIAN!

(Rendra Yuniardi, Tim Pengajar Materi Deradikalisasi bagi Siswa SLTA  FKPT DKI Jakarta, 20/9/15)





  Tentang Penulis

by : @fkptdki
ayo Jaga Jakarta
Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

*Komentar Anda Akan di verifikasi terlebih dahulu oleh admin sebelum ditampilkan